Kada al-faqru an-yakuna kufra.
Kita mungkin sudah cukup sering mendengar kalimat itu. Ada yang bilang itu sebuah hadis, artinya kalimat itu pernah diucapkan oleh Nabi. Arti kalimat itu sendiri kira-kira begini, kefakiran hampir bisa membuat orang menjadi kafir.
Hadis tersebut, sebagaimana biasa, memiliki banyak tafsir. Pernah saya mendengar hadis tersebut dimaksudkan agar manusia giat bekerja. Hadis tersebut karenanya seolah menjadi tali lecut yang memaksa manusia bekerja. Sebab hanya dengan bekerja manusia bisa menghindarkan dirinya dari kefakiran yang menyebabkan kekufuran.
Kata fakir sendiri, dalam bahasa Arab sering dibedakan dengan miskin. Dalam beberapa ayat Al-Qur'an kata ini diletakkan pada urutan pertama sebelum miskin. Menurut ahli bahasa, itu karena muatan kata tersebut lebih dalam. Jika miskin adalah keadaan kekurangan yang dialami seseorang karena tidak cukupnya penghasilan yang diperolehnya, maka fakir lebih dari itu. Fakir adalah keadaan miskin yang disebabkan tidak adanya pemasukan apapun. Orang fakir tidak mempunyai pekerjaan.
Fakir dengan demikian adalah orang miskin yang juga pengangguran. Jika benar hadis di atas dapat dimaknai demikian, maka betapa kasihan nasib negeri ini. Jumlah pengangguran tidak kunjung berkurang, bahkan ada kecenderungan terus meningkat. Ini berarti, deretan manusia yang antri menjadi kafir sudah cukup panjang di negeri ini.
Tafsir lain juga pernah saya dengar, meski nadanya sama. Sama-sama mengerikan! Memangnya kita bisa membuat tafsir yang lebih menggembirakan dari sebuah hadis di atas?