Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryJun 22, '07 10:47 PM
for everyone

Kada al-faqru an-yakuna kufra.

Kita mungkin sudah cukup sering mendengar kalimat itu. Ada yang bilang itu sebuah hadis, artinya kalimat itu pernah diucapkan oleh Nabi. Arti kalimat itu sendiri kira-kira begini, kefakiran hampir bisa membuat orang menjadi kafir.

Hadis tersebut, sebagaimana biasa, memiliki banyak tafsir. Pernah saya mendengar hadis tersebut dimaksudkan agar manusia giat bekerja. Hadis tersebut karenanya seolah menjadi tali lecut yang memaksa manusia bekerja. Sebab hanya dengan bekerja manusia bisa menghindarkan dirinya dari kefakiran yang menyebabkan kekufuran.

Kata fakir sendiri, dalam bahasa Arab sering dibedakan dengan miskin. Dalam beberapa ayat Al-Qur'an kata ini diletakkan pada urutan pertama sebelum miskin. Menurut ahli bahasa, itu karena muatan kata tersebut lebih dalam. Jika miskin adalah keadaan kekurangan yang dialami seseorang karena tidak cukupnya penghasilan yang diperolehnya, maka fakir lebih dari itu. Fakir adalah keadaan miskin yang disebabkan tidak adanya pemasukan apapun. Orang fakir tidak mempunyai pekerjaan.

          Fakir dengan demikian adalah orang miskin yang juga pengangguran. Jika benar hadis di atas dapat dimaknai demikian, maka betapa kasihan nasib negeri ini. Jumlah pengangguran tidak kunjung berkurang, bahkan ada kecenderungan terus meningkat. Ini berarti, deretan manusia yang antri menjadi kafir sudah cukup panjang di negeri ini.

          Tafsir lain juga pernah saya dengar, meski nadanya sama. Sama-sama mengerikan! Memangnya kita bisa membuat tafsir yang lebih menggembirakan dari sebuah hadis di atas?

 


mrnoxious wrote on Sep 18, '07
Sayangnya apa yang coba anda tafsirkan itu bukan hadits. Dalam sanadnya terdapat rawi yg bernama Yazid bin Aban al-Raqqasyi yg dikenal  dha'if jiddan. Imam An-Nasai menilainya matruk atau tertuduh sebagai pendusta krn perilaku sehari2nya dusta. Bahkan saking matruknya, Imam Syu'bah pernah sampai bilang "Lebih baik saya berzina daripada harus meriwayatkan hadits dari Yazid al-Raqqasyi". [Muhammad bin al-Dzahabi, Mizanul I'tidal fi Naqd al-Rijal, Editor 'Ali Muhammad al-Bijawi, Dar al-Fikr, Cairo, 1993, IV/418]

Jadi kenapa harus pusing2 nyoba menafsirkan "hadits" diatas ?...
masopang wrote on Sep 18, '07
hadits tapi dhoif kaleee....?! CMIIW :-)
zaydfaza wrote on Sep 18, '07, edited on Sep 23, '07
Jadi kenapa harus pusing2 nyoba menafsirkan "hadits" diatas ?..
Ya kita memang bisa memperdebatkan status teks tersebut. Tetapi, apa pun itu, muatan teks tersebut memang begitu nyata terasa dalam kehidupan. Pengabaian umat terhadap masalah ekonomi sering membuat umat menjadi kecil, dan mengambil tindakan kufur. Dalam konteks ini, kayaknya, aku lebih condong dengan pemikiran Syahrur, bahwa untuk menilai kesahihah hadis kita tidak perlu terpaku pada sanad.
zaydfaza wrote on Sep 18, '07
hadits tapi dhoif kaleee....?!
Aku tidak tau persis statusnya. Tapi kayaknya, hadis dhaif pun boleh dipakai (bukan untuk menetapkan hukum) untuk menjadi motivasi. Buktinya dalam Ihya' Ulumuddin Imam Ghazali banyak menggunakan hadis yang kata ulama hadis dikategorikan dhaif.
Add a Comment
   
© 2012 Multiply · English · About · Blog · Terms · Privacy · Corporate · Advertise · API · Help · Sitemap

Template design - Copyright © 2005 Sam Royama All rights reserved.